Love Pictures, Images and Photos
love quote Pictures, Images and Photos

Tuesday, December 1, 2009

BUNGA SURGA KAK FARAH

“Anak kurang ajar! tak tahu diri! Perempuan macam apa kamu ini heh!? Memalukan!” teriakan-teriakan itu datang dari kamar kakakku Farah, yang letaknya tak jauh dari kamarku. Aku yang saat itu sedang tertidur , terbangun karena kaget.“ Ya Allah , ada apa ini?” tanyaku dalam hati.“ Siapa bapak anak haram yang sedang kamu kandung itu heh? siapa?” itu suara Bapak, Bapak yang penuh amarah.“ Ya Allah, ternyata kak Farah…” aku tak sanggup lagi meneruskan ucapan lirihku, yang aku lakukan hanya menangis, menangis, dan menangis.“Ya Allah, cobaan apa yang sedang kau timpakan pada kami?”*** *** ***1 minggu yang laluKu hampiri kak Farah yang terbaring lemah dikasurnya.“ Kenapa Kak? Sakit ya?” tanyaku cemas.“ Iya, sepertinya maag Kakak kambuh, perut kakak mual, kepala pusing! Jawab kak Farah, lemah sekali suaranya waktu itu.“ Ke dokter ya Kak?” tanyaku cemas.“ Nggak usah Fa, Kakak udah agak mendingan kok!” jawabnya lirih.“ Mama sama papa tahu Kak?”“Nggak, jangan kasih tahu mereka yach? Kak nggak mau mereka cemas, lagian besok mereka sudah pulang kan?jawab Kak Fara. Ya, waktu itu Mama sama Papa memang sedang pergi ke luar kota, biasa bisnis! Hal yang selalu dinomorsatukan papa dan mama dibandingkan kami. Meskipun ya, kami telah dewasa tapi sebenarnya kami masih membutuhkan mereka, perhatian, dan bimbingan mereka.“ Fa…!” sapa kak Farah membuyarkan lamunanku.“ Ya?” jawabku.“ Apakah Allah akan memaafkan hambanya yang telah berbuat dosa besar?” sesaat aku terpana, merasa heran mendengar pertanyaan kak Fara beribu prasangka bersarang di benakku, tapi segera kutepis prasangka-prasangka itu.“ Tentu saja Kak, Allah itu kan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Pengampun! Asalkan kita memang benar-benar mau bertobat dan memperbaiki kesalahan kita, Allah pasti memaafkan. Kenapa sih Kak, nanyanya kok gitu?” tanyaku.Tanpa menjawab pertanyaanku, kak Fara bertanya lagi.“ Fa, bagaimana menurutmu tentang seseorang yang hamil di luar nikah?”“ Astagfirullah, apakah…? hentikan pikiran-pikiran burukmu Farhah! Dosa bersyu`udzhon terhadap orang lain!” bisik sisi lain hatiku, mengingatkan!“ Ya jelas sekali itu dosa Kak, berzina itu kan dosa besar, bukankah allah menghendaki adanya pernikahan untuk menghindari hal itu? Makanya dalam agama Islam itu nggak ada yang namanya pacaran!” sekilas aku mencoba menangkap ekspresi wajahnya yang menatap hampa langit-langit kamar.Seperti ada beban berat di wajah ayu itu. Ah Kakak ada apa denganmu? Jangan membuatku takut.“ Lalu…, bagaimana dengan anak yang dikandungannya, apakah ia anak haram? Apakah ia akan ikut menanggung dosa ibunya?” tanyanya lagi tanpa menatapku, tatapannya tetap lurus, hampa!”“ Tidak Kak! Seorang bayi yang lahir dari rahim seorang pelacur sekalipun! Ia tetap lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa. Dia tidak akan ikut menanggung dosa ibunya, dosa ibunya adalah untuk ibunya. Hanya saja…,mungkin karena caranya yang haram, sehingga terkadang si bayi itu seperti terbelenggu dalam kata-kata itu.” Aku jawab saja pertanyaan kak Fara semampuku dan setahuku.Aduh, kak Fara kok nanyain hal ginian sih! Aku kan kurang faham tentang hal-hal seperti itu.“ Tapi masyarakat luar biasanya,…” belum selesai ucapan kak Fara, aku langsung memotongnya.“ Allah Maha mengetehaui, walau masyarakat mencap bayi itu anak haram, tetapi dia tetap bayi mungil yang tak berdosa, dia hanya korban kesalahan orang tuanya”.“ Ada apa sih Kak? Kok nanyain yang kayak gitu sih, jadinya aja Fa kayak yang sok tau banget?” tanyaku.“ Nggak Fa, kak Fara Cuma pengen nanya aja kok! Sebenarnya kamu beruntung sekali dititipkan sama nenek, Fa!”“ Lho!?” tanyaku heran.“ Ya, disana kamu lebih diperhatikan, nenek pasti menggemblengmu dengan nila-nilai agama yang kuat, buktinya kamu sudah mau berjilbab sekarang, satu hal yang mama dan kak Fara belum lakukan. Sedang kakak…” ucapannya terputus, sesaat terlihat kakak menarik nafasnya berat, kulihat mata yang lelah dan sarat akan beban itu mulai berkaca-kaca.“ Kakak di sini seperti sendirian, mama dan papa jarang sekali ada di rumah, mereka seperti tidak menyadari masih ada kakak di sini yang membutuhkan mereka, perhatian dan bimbingan mereka.” Kakak melanjutkan ucapannya diantara isak tangisnya.Aku tertunduk mendengar pernyataan kakak, benarkah aku lebih beruntung dibandingkan kak Fara? Padahal sebenarnya aku justru merasa terbuang, tersisihkan! Sejak kecil aku diasuh nenek karena mama merasa kelahiranku akan menyebabkan kariernya terganggu,bahkan mama sempat akan menggugurkanku waktu itu tetapi nenek melarangnya dan berjanji untuk mengurusku.Aku juga yakin waktu itu, kak Fara pasti lebih sering diurus oleh mbok Iyah dibandingkan mama. Dan papa? Papa malahan mendukung karier mama waktu itu, bukannyamengingatkan mama akan kewajibannya yang lebih penting.Aku jadi teringat kata-kata nenek yang bijak dan penuh kasih sayang menyadarkanku apabila aku mulai bersyu`udzhon pada mama dan papa.“ Mungkin mata dan hati kedua orangtuamu masih dibutakan oleh hal-hal yang bersifat duniawi, bersabarlah dan jangan pernah lelah untuk berdoa agar hidayah Allah datang membukakan mata dan hati orang tuamu Fa!” bijak sekali kata-kata nenek waktu itu.Ah, nenek yang baik bahkan Allahpun menyayangimu sehingga Dia memanggilmu untuk kembali padanya dan aku kembali pada mamaku, beberapa bulan yang lalu.Plak!! Ya, Allah aku tersentak dari lamunanku, kakak! Aku berlari menuju kamar kakaku, kulihat kakak duduk bersimpuh di lantai dengan berurai airmata, dari sudut bibirnya mengucur darah. Sedangkan aku hanya bisa mematung di sisi pintu tanpa bisa berbuat apa-apa dan sepertinya mereka tidak menyadari kehadiranku.“ Gugurkan kandungan itu, Fara! Jangan bikin Mama dan Papa malu!” bentak papa.“ Jangan Mah, Pah! Fara mohon, Fara mengaku salah, Fara menyesal! Tapi, jangan menyuruh Fara menggugurkan kandungan ini ,…Fara mohon, jangan biarkan Fara terjerumus dalam dosa yang lebih besar!”pinta kakakku memelas, wajahnya pucat sekali.“ Tahu apa kamu tentang dosa? Anak durhaka!” plak!! kali ini mama yang melayangkan tamparannya.“ Cukup Ma, Pa! Jangan bersikap tidak adil! Walau bagaimanapun anak yang dikandung kak Fara adalah darah daging mama dan papa juga, berbelas kasihanlah kak Fara telah menyesali perbuatannya! Ucapku sambil menangis.“ Fa, kamu…” mama sepertinya kaget melihatku, tapi kemudian melanjutkan ucapannya ke kak Fara “ Baiklah, m mungkin ini juga kesalahan kami karena kurang memperhatikanmu, tapi ingat! Kalau anak itu lahir, masukkan ia ke panti asuhan, atau bagaimanapun caranya papa sama mama nggak mau tahu!”ucapan mama sudah mulai melunak tapi sikap keras kepala dan angkuhnya belum hilang.“ Ya! Sama seperti yang mama dan papa lakukan ke Fa!” kata-kata itu terlontar begitu saja.“ Apa maksudmu Fa?” tanya mama kaget mendengar ucapanku.Ups! ya allah, kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja? Terlanjur, lebih baik kuteruskan saja ucapanku mudah-mudahan papa dan mama mau mengerti.“ Ya! menitipkan Fa ke nenek, bukankah itu secara tidak langsung menunjukkan kalau Mama tidak pernah menginginkan Fa, Mama menganggap kelahiran Fa akan menghambat karier Mama, dan Papa? Papa malahan mendukung Mama. Dimana Papa dan Mama saat Fa butuh mama, butuh Papa!? Apa yang harus Fa jawab saat teman-teman Fa menanyakan kenapa Fa tidak tinggal dengan orangtua Fa? Aku tak bisa menahan diriku lagi, tangiskupun meledak.Kakak menghampiri dan memelukku, kami berdua salin bertangisan. Mama dan papa terdiam membisu, entah apa yang ada dalam benak mereka saat itu. Ketika emosi dan tangisku mulai mereda, aku melanjutkan ucapanku.“ Maafin Fa sudah mengucapkan kata-kata yang kasar, Fa yakin sebenarnya Papa dan Mama sayang sama Fa, buktinya Papa dan Mama tidak menitipkan Fa ke panti asuhan tetapi menitipkan Fa ke nenek, orang yang begitu baik dan bijak, yang mengajari Fa tentang banyak hal. Mama dan Papa juga selalu mengirimi uang untuk kebutuhan Fa, menengok Fa , walaupun itu hanya lebaran waktu lebaran saja..Tapi, bukan itu yang Fa inginkan, yang Fa inginkan waktu itu Mama, Papa dan kak Farah!” ucapku, kutatap dua orang yang kukasihi itu. Mereka tetap diam, lalu papa meninggalkan kami tanpa sepatah katapun diikuti mama.Tinggallah aku dan ka Fara di kamar itu, kuhapus airmata kak Fara, ku obati luka di bibirnya.“ Jangan takut kak, Fa akan selalu sayang sama Kakak ! ucapku.Kak Fara tersenyum menatapku “ terima kasih Fa, maafkan Kakak!” ucapnya lirih, dipeluknya aku dengan penuh kasih. Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk menghadapi cobaan ini.*** *** ***6 bulan telah berlalu, kandungan kak Fara sekarang sudah memasuki bulannya. Kak Fara sendiri terlihat lebih dewasa sekarang, dia tampak begitu tegar menghadapi gunjingan orang-orang tentangnya, apalagi setelah mas Andra orang yang menghamilinya lepas dari tanggung jawab dengan alas an ingin menyelesaikan kuliahnya ke luar negeri.Huh! pengecut sekali dia, dia menyampaikan keputusannya tersebut hanya melalui sepucuk surat tanpa alamat, mas Andra menghilang tanpa kabar berita. Papa dan mama pasrah , mereka tidak berusaha mencari tahu alamat mas Andra melalui kedua orangtuanya karena kak Fara melarangnya. Kak Fara sudah pasrah, “biarlah ketulusan dan kesadaran yang akan membawa mas Andra kembali pulang”. Jawabnya, ketika mama dan papa menanyakan alasannya.Banyak makna yang lahir dari peristiwa ini, sepertinya Allah memberikan hidayah-Nya kepada mama dan papa melalui peristiwa ini.Ah, tiba-tiba saja aku jadi teringat kata-kata nenek tentang hidayah Allah. Inikah jawaban Allah atas doa-doaku?“Hidayah itu datang Nek, meski melalui airmata dan amarah”.Sekarang mama dan papa sudah mulai bisa menerima kenyataan, mereka tampak tabah sekaliu dengan gunjingan-gunjingan orang-orang di sekitar mereka. Mamapun dengan ikhlas memutuskan unutuk menghentikan kariernya manajer pada sebuah perusahaan swasta dan lebih memilih tinggal di rumah merawat kak Fara dan kandungannya yang sudah besar. Tak jarang kulihat mama dan papa menangis setelah shalat berjamaah. Tak jarang pula aku melihat kak Fara dengan kandungannya yang besar menangis diatas sajadah diantara shalat malamnya.Terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari kamar kak Fara, sebenarnya kak Fara pintar sekali mengajinya, mbok Yah selalu mengajarinya sejak kecil. Tapi tunggu dulu sepertinya itu… ya! Itu surat Maryam, jangan-jangan… aku tersenyum, pasti seorang bidadari yang akan lahir di rumah ini. Karena semasa kehamilannya, kak Fara sering sekali melantunkan surat itu, mungkin saja itu suatu pertand. Ah, entahlah karena hanya Engkau yang Maha Mengetahiu segalanya.Tok!tok!tok! aku mengetuk pintu kamar kak Fara.“ Masuk!” suara dari dalam menyahut ketukanku.“ Assalamu’alaikum?” sapaku sembari melongokkan kepalaku dari balik pintu.“ Wa’alaikumsalam!” jawab kak Fara, kak Fara terlihat cantik sekali dalam balutan mukenanya itu. Akupun masuk dan duduk di sampingnya.“ Sudah selesai, kak?” tanyaku.“ Sudah!” jawabnya.“Fa…!”“Ya kak!” jawabku.“Benarkah apabila seseorang meninggal ketika ia melahirkan , itu syahid?” aku ternganga mendengar pertanyaannya.“Fa!” sapa kak Fara lagi, mengagetkanku yang masih keheranan mendengar pertanyaanya.“Eh…iya, kak?”tanyaku.“Kok, kayak yang heran gitu sih? Pertanyaan kakaknya jawab dong!” seru kak Fara sembari tersenyum.“Eh, maaf kak! Habis kakak nanyanya gitu sih!” sahutku, tapi kemudian akupun melanjutkan ucapanku untuk menjawab pertanyaan kak Fara, “ya, itu memang benar sekali kak!”“Meskipun orang itu tidak bersuami? tanyanya lagi. Aku semakin keheranan mendengar pertanyaan seperti itu, tapi segera saja ku jawab pertanyaan itu.“Percayalah kak, Allah itu Maha Mengetahui, lautan ampunan bagi orang-orang yang benar-benar mau bertobat”jawabku.Kakak tersenyum mendengar jawabanku, Ia menghampiri, memeluk dan mencium keningku.Seminggu kemudian, kak Fara melahirkan bayi perempuan yang cantik.Namun karena perdarahan yang hebat, kak Fara meninggal setelah dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Sebelum meninggal kak Fara sempat mengucapkan beberapa patah kata.“Zahrah Nurjanah namanya, semoga ia menjadi bunga dan cahaya surga bagi rumah kita. Fara titip Zahrah Mah, Pah dan Fa, jadilah umi bagi Zahrah! Maafkan Fara ya Mah, Pah, Fa…” setelah mengucapkan dua kalimat syahadat kak Fara menghembuskan nafasnya yang terakhir diiringi isak tangisku, Mama, dan Papa.Selamat jalan kak Fara, semoga Allah SWT menerima kakak di sisi-Nya.
*** *** ***5 tahun kemudian…“ Ummi…!”Aku menoleh, sesosok tubuh munggil berdiri di belakangku.“Ya, sayang?”sahutku“Zahra lapar!” rengeknya manja.Aku tersenyum, kuhampiri ia, kupeluk erat tubuh mungil itu, kutatap wajahnya yang bersih. Ia mirip sekali denganmu, kak!.Ketika Zahrah berumur dua tahun, mas Andra datang. Ia begitu menyesali perbuatannya apalagi setelah mengetahui kakak talah meninggal, ia terlihat begitu menyesal.Lalu dia meminta izin untuk merawat Zahrah tetapi mama dan papa tidak mengizinkannya. Apalagi saat itu Zahra kecil terlanjur menganggap akulah uminya, ia tidak akan mau dijauhkan dariku.Entahlah, mungkin inilah yang disebut kebesaran Allah, 1 minggu setelah kedatangannya yang pertama, ia datang lagi dengan kedua orangtuannya. Dan dia, dia melamarku kak! Ya Allah, aku kaget sekali waktu itu, waktu itu umurku baru 20 tahun! Masih semester lima!Namun setelah berunding dan shalat istikharah akhirnya aku menerima lamaran itu, tanpa harus menghentikan kuliahku. Meskipun sebenarnya, masih ada ganjalan dibenakku apabila mengingat apa yang telah diperbuat mas Andra terhadap kakak, tapi mungkin inilah jalan yang diberikan Allah untuk kebaikan Zahrah dan masa depannya, inilah cara Allah untuk mendekatkan Zahrah dengan ayah kandungnya. Mudah-mudahan ini adalah pertanda bahwa Allah telah benar-benar menerima permohonan kakak, mengampuni kakak.Sekarang sudah 3 tahun aku berumah tangga dengan mas Andra, dan baru saja menyelesaikan kuliahku. Alhamdulillah, meskipun tidak cum laude, karena hampir seluruh waktuku adalah untuk si kecil dan kehidupan rumah tanggaku.Mas Andra juga sudah banyak berubah, sekarang ia tampak lebih dewasa, bahkan dia telah banyak membimbingku dalam berbagai hal. Mungkin ia telah banyak belajar dari pengalamannya, dia benar-benar melakukan peranannya sebagai ayah dan suami yang bertanggung jawab.InsyaAllah, kami berdua akan merawat dan menjaga Zahrah dengan baik, kak!Kututup diaryku, ku tatap dua orang kesayanganku yang sedang tertidur pulas di sampingku.Subhanallah, Maha Besar Allah semoga ini adalah untuk selamanya. Aku beranjak dari tempatku untuk mengambil air wudhu, untuk menutup sebagian malamku dengan shalat.

No comments: